Feeds:
Pos
Komentar

What About You ??

Bab 2 bagian 2 …

Tiara melihat ke arah jam tangannya. Jarum jam menunjukkan pukul 21.45 WITA. Tiara masih punya waktu 15 menit untuk sampai di hotel tempat Andre menginap. Frida juga sudah meneleponnya untuk menanyakan dia sudah di hotel atau belum dan menasihati Tiara tentang pentingnya memakai pengaman dan dia sudah siap untuk menanggung dosa besar demi sahabat yang dia sayangi. Tiara hanya tersenyum kecut ketika mendengar setiap kata yang diucapkan Frida di telepon.

Tiara melihat ke luar taksi yang ditumpanginya untuk mematikan kebosanannnya selama di taksi dan kegugupannya menghadapi malam ini. Tiara melihat sepintas sepasang remaja yang sedang nongkrong di bawah sebuah pohon besar yang menaungi salah satu jalan utama di Makassar yang sekarang dilalui oleh taksinya untuk menuju ke hotel.

Tiara jadi kembali mengenang masa-masa awal pacarannya dengan Andre. Khas anak remaja. Setelah orangtuanya memberikan restu untuk hubungannya dengan Andre, tiada malam minggu tanpa membohongi kedua orangtuanya. Dengan dalih mau nonton ama sahabat-sahabatnya–yang dengan senang hati membantu kebohongannya–, Tiara menghabiskan malam minggunya dengan Andre, kalau bukan di pantai, mereka ke mal.

Perhatian Tiara langsung teralih setelah akhirnya taksi yang ditumpanginya berhenti di teras lobi hotel. Tiara membayar taksi itu dan kemudian turun. Dua orang office boy hotel yang menjaga pintu membukakan pintu untuk Tiara yang melemparkan senyum kepada mereka berdua sambil melangkah masuk menuju lobi.

“Selamat malam, ada yang bisa saya bantu?” sapa dan tanya salah seorang recepsionist cantik.

“Kamar Andre Chandradinata nomor berapa ya?” tanya Tiara sambil tersenyum kecil.

“Tunggu sebentar ya, saya cari dulu,” kata recepsionist yang di dada kanannya tersemat papan nama kecil bertuliskan MALA.

Recepsionist itu terlihat sibuk mengetik di komputer LCDnya untuk mencari kamar Andre.

“Bapak Andre Chandradinata di kamar 410,” gumam recepsionist itu sambil sedikit melirik ke arah layar komputer untuk memastikan angka yang diucapkannya tidak salah.

Belum sempat Tiara mengatakan terima kasih, datang seorang recepsionist yang lain.

“Maaf, nama mbak, Tiara Salsabila?” tanya recepsionist itu.

Tiara melirik sebentar ke arah papan nama recepsionist itu dan membaca namanya. Putri.

“Iya, saya Tiara. Ada apa ya, kok bisa tau nama saya?” suara Tiara terdengar bingung ditambah lagi dengan ekspresinya.

“Maaf mbak, tadi saya dengar mbak mencari kamar Pak Andre,” ucap recepsionist itu. “Begini mbak, tadi sore Pak Andre meminta saya memberikan kunci cadangan kamarnya kepada Mbak Tiara,” lanjutnya sambil menyerahkan sebuah kunci kamar dengan sebuah gantungan kunci dengan angka 410.

Tiara menerima kunci itu dengan kembali tersenyum dan mengucapkan terima kasih kepada kedua recepsionist di hadapannya itu yang juga membalas senyumnya dan mengatakan, ” Sama-sama, mbak.”

Tiara melangkah menuju lift hotel dengan perasaan geli mendengar dia dipanggil “mbak”, sedangkan Andre dipanggil “bapak”, dan kemudian menunggu pintu lift terbuka untuk beberapa saat. Saat pintu lift terbuka, ada sekitar 5 orang yang keluar dari dalam lift, tapi Tiara tidak terlalu memperhatikan mereka. Tiara pun masuk ke dalam lift dan menekan angka 4 pada salah satu tombol di dalam lift.

Tiara meremas-remas kunci di tangannya dengan gugup. Hanya tinggal menghitung menit sampai semuanya terjadi.

Di lantai 2 dan 3 ada beberapa orang yang masuk. Salah satu di antaranya seorang wanita yang sepertinya seumuran denganMama Tiara, 40an akhir, yang berdiri di samping Tiara, tersenyum ke arah Tiara yang kemudian dibalas dengan senyuman juga oleh Tiara.

Saat layar digital di atas pintu lift memperlihatkan angka 4 tanda lift berhenti di lantai 4, pintu lift langsung terbuka dan Tiara pun melangkah keluar sambil memiringkan badannya agar dapat keluar tanpa menabrak 2 orang bapak yang berdiri di depan pintu lift.

Begitu keluar dari lift, Tiara melihat sebua papan kayu berukir yang terpasang di tembok hotel. Angka 400 sampai 419 dengan tanda panah ke kiri dan angkan 420 sampai 439 dengan tanda panah ke kanan, jadi Tiara melangkahkan kakinya ke arah kiri.

Karena melihat angka-angka ganjil di kamar-kamar sebelah kiri, maka Tiara hanya melihat ke arah kanan. Dan akhirnya dia sampai di kamar dengan pintu berangka 410.

Tiara menghembuskan nafas terlebih dahulu sebelum akhirnya memasukkan kunci di tangannya ke lubang kunci di pintu dan memutarnya sampai terdengar bunyi klik dan pintu pun terbuka.

Tiara melangkah pelan masuk ke dalam kamar yang tampak terang karena lampunya yang menyala semua. Awalnya Tiara bingung dengan keadaan kamar yang kosong, tapi setelah mendengar suara air dari arah kamar mandi yang terletak di sisi kanan lorong kecil yang berada tepat di depan pintu kamar, Tiara jadi tahu kalau Andre sedang mandi.

Tiara memperhatikan jam dinding di kamar itu yang menunjukkan pukul 10 malam tepat yang berarti Tiara sangat tepat waktu, tidak kurang ataupun lebih semenitpun.

Tiara kemudian duduk di sisi tempat tidur sambil menyilangkan kakinya dan menaruh tasnya–yang di dalamnya terdapat baju gantinya, selain dompet, handphone, lipgloss, dan bedak– di sampingnya.

Tiara memperhatikan jam tangannya hanya untuk memastikan kalau dia tidak datanga terlalu cepat dan kemudian mendesah dengan tidak sabar. Dan tak lama kemudian, Andre pun keluar dari kamar mandi dengan hanya menggunakan handuk untuk menutupi bagian vitalnya.

“Aaaa!” Jerit Tiara sambil menutup matanya.

Andre malah tertawa kecil melihat tingkah pacarnya. Andre pun kemudian melangkah mendekati Tiara dan duduk di samping Tiara.

Tangan Andre bergerak perlahan membuka kedua tangan tangan Tiara yang menutupi matanya.

“Gak usah malu, sayang,” kata Andre sambil tersenyum manis, senyum yang membuat Tiara dan ribuann fans-nya meleleh karena tersihir, senyum dengan dua lesung pipi yang manis.

“Gimana gak malu kalau kamu cuma pakai handuk kayak gitu,” protes Tiara sambil manyun.

Andre hanya terkekeh.

Andre lalu berjalan ke arah sakelar lampu kamar dan menekannya sehingga kamar menjadi remang, karena hanya ada 2 lampu meja yang meneranginya. Setelah itu, dia kembali duduk di samping Tiara yang sedang meremas tangannya dengan mimik gugup.

“Kamu siap?” tanya Andre sambil menyelipkan rambut Tiara yang panjang ke balik telinganya.

Tiara menundukkan kepalanya menatap kakinya, tidak mampu menjawab dengan kata dan hanya mengangguk ragu.

“Kamu gugup?” tanya Andre, kali ini sambil mengangkat dagu Tiara agar melihat ke arahnya.

Tiara kembali hanya mengangguk. Andre tersenyum lagi.

“Gak usah gugup, sayang. Aku juga baru pertama kali. Ini gak akan lama,” ucap Andre dengan tatapan yang penuh arti. Tapi Tiara tidak tahu apa arti tatapan itu. Cinta atau …

“Tapi…” Kata-kata Tiara langsung terhenti karena jari telunjuk kanan Andre ada di depan bibirnya, membungkamnya.

“Aku akan bertanggungjawab, sayang.” Andre berkata seakan tahu apa yang akan Tiara katakan.

“Kamu janji?” Tiara meminta kepastian.

“Dengan nyawaku,” jawab Andre.

Tiara tersenyum simpul mendengar jawaban Andre yang menurutnya bukan main-main atau hanya sekedar bualan belaka, karena selama ini Andre tidak pernah mengingkari janjinya, sekecil apapun janji itu.

“Aku cinta kamu,” singkat Andre yang langsung mengecup lembut bibir Tiara yang jantungnya berdetak kencang.

Bukan pertama kalinya Andre mencium Tiara, tapi ciuman ini adalah awal dari malam yang, entah mengapa, menjadi sangat panjang. Malam itu menjadi latar waktu sebuah gerakan indah yang dilakukan dua orang anak manusia dengan desahan lembut penuh cinta menjadi musik latarnya. Kamar itu menjadi saksi bisu segala tanda cinta yang terjadi. Tanda cinta yang tak diharapkan Tiara.

What About You ??

Bab 2 bagian 1 …

Tiara terduduk lesu di kursi di bawah pohon flamboyan, tempat dia biasa menunggu para sahabatnya. Suasana sekolah agak lengang, maklum masih jam pelajaran. Tiara bisa duduk dengan santai karena gurunya sedang ijin menjenguk keluarganya di rumah sakit.  Tiara terduduk sambil menatap rumput, masih memikirkan kesepakatannya dengan Andre.

Tadi pagi Andre mengirim sebuah pesan ke handphone Tiara yang mengatakan kalau dia menunggu kedatangan Tiara jam 10 malam ini di kamarnya, di hotel tempat konsernya semalam berlangsung.

Tiara menarik nafas panjang dan kemudian mengeluarkannya dengan cepat. Hatinya bimbang, haruskah ia datang?

“Ku jatuh cinta, jatuh untuk kesekian kalinya…” Terdengar sebuah lagu yang Tiara sepertinya pernah dengar beberapa kali di radio, tapi kali ini lagu itu dengan irama yang berbeda. Akustik.

Tiara mendongak untuk melihat siapa yang bernyanyi di depannya. Ternyata Fadel and The Gank, anak-anak cowok yang degan PD-nya masuk ke ekskul paduan suara di saat semua cowok berlomba untuk menjadi anggota ekskul basket, paskib, dan futsal. Hobi mereka berimprovisasi  dengan lagu dan menghibur murid lain dengan lagu atau lawakan mereka. Dan kali ini mereka memakai lagu Afgan, Tanpa Batas Waktu, untuk show dadakan mereka.

Tiara terus saja mendengarkan lagu mereka sambil tersenyum. Tiara senang, akhirnya ada yang bisa membantunya untuk sejenak melupakan masalahnya. Fadel dan teman-temannya, yaitu Yuda, Hari, Uno, dan Dika terus bernyanyi dengan semangatnya untuk menyenangkan hati teman sekampus mereka yang terlihat lesu itu.

“Yeee!” Tiara bertepuk tangan dengan senangnya setelah lagu yang dibawakan Fadel ang The Gank selesai. Mereka pun membungkuk untuk menghormati penontonnya yang memberikan apresiasi kepada karya mereka itu.

“Bagus nggak, Ra?” tanya Uno yang dengan mukanya yang sebenarnya biasa saja tapi selalu tampak lucu bagi Tiara. Mungkin karena sifat humorisnya.

“Bagus banget! Itu lagunya Afgan kan?” puji Tiara yang kemudian balik bertanya.

“Yup! Bener banget, lagu yang lagi ngetop sekarang,” kata Hari.

“Kamu tadi kenapa, Ra? Kok lesu banget?” selidik Fadel yang sudah duduk di samping Tiara. Tak lama, teman-temannya yang lain juga ikut mengelilingi Tiara. Fadel di kanan Tiara, Yuda di kiri, sedangkan Hari, Uno, dan Dika di belakang kursi.

“Aku nggak apa-apa kok, cuma capek aja,” bohong Tiara yang agak bingung dengan sikap kelima cowok teman sekolahnya itu.

“Oh, kamu tadi malam nonton konsernya Andre ya?” tanya Yuda dengan antusias.

“Iya.”

“Jadi kamu beneran pacarnya Andre yang penyanyi terkenal itu, Ra?” ujar Dika tidak percaya.

‘”Iya, anak baru!” kata Uno sambil menarik topi yang dipakai Dika.

Dika memang anak baru di sekolah mereka, baru pindah dari Kendari setelah Andre jadi artis, jadi dia tidak tahu kalau Andre dan Tiara benar-benar pacaran dan hanya mendengar selentingan cerita dari teman-temannya.

Fadel tiba-tiba memberi aba-aba dengan jentikan jari, tanda mereka akan bernyanyi lagi. Mereka memang bernyanyi. Mereka pindah posisi, berdiri di depan Tiara seperti lagu pertama dan kali ini mereka menyanyikan lagu Ratu yang sekarang sudah berubah nama menjadi Duo Maia dan kemudian dipopulerkan oleh Pasto, Aku Pasti Kembali. Kembali dalam versi akustik andalan mereka. Jadilah Tiara mendengarkan nyanyian mereka lagi.

“Kok kalian nyanyi 2 lagu, biasanya kan cuma 1 lagu?” tanya Tiara setelah Fadel and The Gank selesai bernyanyi dan Tiara sudah memberi applause buat mereka.

“Spesial buat kamu, Ra,” jawab Fadel sambil tersenyum.

“Kenapa?”

“Soalnya kamu penonton yang paling menghargai kerja keras dan usaha kami,” kata Uno dengan muka yang dibuat seserius mungkin sambil mengepalkan tangannya.

Tiara tersenyum kecil melihat wajah Uno–yang bagi dia malah lucu–agar tidak menyinggung perasaannya yang sudah usaha. “Makasih ya, buat lagu-lagunya,” ucap Tiara dengan tulus.

“Sama-sama,” kompak Fadel and The Gank sambil membungkuk hormat dengan gaya balerina yang membuat Tiara tertawa.

“Ya ampun!” suara Dika mengagetkan semuanya.

“Kenapa?” tanya Hari dengan ekspresi panik karena menyadari pasti ada sesuatu yang gawat kalau Dika sampai menepuk jidatnya.

“Kalian ingat Pak Sudirman?” tanya Dika dengan ekspresi gawat darurat.

“Pak Sudirman yang pahlawan tanpa tanda jasa yang sekarang di kuburan atau Pak Sudirman yang pahlawan tanpa tanda jasa yang tiap Senin ama Jumat ngasi PR matematika?” Yuda balik bertanya.

“Yang tiap Senin ama Jumat ngasi PR,” jawab Dika cepat.

“Emang ada apa ama Pak Sudirman yang itu?” tanya Fadel.

“Kalian ingat tugasnya nggak?”

Seperti baru saja tersadar dari mimpi buruk, mereka semua berteriak, “OH, NO!“, dengan mimik wajah yang dapat didefinisikan dengan kata lebay.

“Ra, kita duluan ya! Da!” kata Hari sambil berlari menyusul teman-temannya yang sudah lebih dulu berlari ke arah kelas mereka.

Tiara terus memperhatikan pola tingkah mereka yang lucu. Apalagi ketika tersandung dan Dika terpeleset dan membuat teman-teman mereka yang berlari di belakang mereka ikut terjatuh. Dengan saling menyalahkan dan jitak-jitakan, mereka tetap berlari dengan semangat dan ribut.

Tiara baru sadar setelah beberapa saat, kenapa teman-temannya itu begitu panik ketika mengigat tugas dari Pak Sudirman, salah satu guru di sekolah mereka yang mengajarkan mata pelajaran matematika untuk jurusan IPA. Ternyata mereka yang minggu lalu mencuri beberapa alat dari lab IPA untuk eksperimen menghidupkan katak yang sudah mati ketika jam mengajar Pak Sudirman. Mereka ketahuan. Belum lagi alat-alat lab IPA yang mereka curi malah jadi kembali nggak utuh. Mereka mendapat hukuman membersihkan halaman sekolah seminggu penuh dan juga mendapat tugas membuat makalah matematika yang menurut murid-murid lain super duper ribet banget dari Pak Sudirman yang kepelitannya dalam memberikan nilai nggak perlu dipertanyakan lagi.

Setelah Fadel and The Gank menghilang dari pandangannya, Tiara kembali hanya sendiri di bawah pohon flamboyan besar yang menaunginya dari panas matahari yang sudah mulai terik, meskipun suasana di sekitarnya sudah mulai ramai, karena murid-murid kelas lain sudah berhamburan ke luar kelas untuk menikmati jam istirahat mereka. Tapi, belum ada tanda-tanda kedatangan para sahabatnya yang tidak pernah absen menemuinya di bawah pohon flamboyan ini.

Tiara dan para sahabatnya memang berbeda kelas. Aira di IPA1, Eril dan Frida di IPA3, sedangkan Romeo di IPS1, sedangkan Tiara sendiri di IPA2. Tapi meski begitu, mereka berlima tidak pernah absen untuk ngumpul bareng demi menjaga eratnya tali persahabatan mereka. Tali persahabatan yang sudah mereka jalin sejak di bangku SD. Kalau dihitung-hitung, sudah hampir 12 tahun mereka bersahabat.

Pikiran Tiara yang mengenang kembali masa-masa awal persahabatannya dengan para sahabatnya tiba-tiba sudah terambil alih lagi oleh pikiran tentang Andre. Sekarang Tiara jadi pusing, apa yang harus dikatakannya pada kedua orangtuanya agar dapat mengijinkannya keluar sampai pagi, malam ini.

Dan Frida datang sebagai jawabannya.

“Ra, ngapain melamun? Ati-ati kesambet, bu!” canda Frida yang sudah terduduk di samping Tiara.

“Kok lama?” tanya Tiara dengan sikap yang dia buat sesantai mungkin.

“Biasa, guru biologi kesayangan kita, Bu Jumiati, sibuk nelpon sampai lupa murid-muridnya udah pada mau istirahat.”

“Oh! Terus yang lain mana?” tanya Tiara lagi, untuk basa-basi.

“Eril masih di kelas nyalin PR, Aira ama Romeo nggak tau deh!” jawab Frida.

“Oh!” singkat Tiara yang kemudian kembali melamun, memikirkan alasan yang tepat untuk keluar dari rumahnya malam ini.

“Tiara!” Frida memukul paha Tiara untuk menyadarkan Tiara dari lamunannya.

“Iya? Kenapa?” kaget Tiara. “Kenapa, Da?”

“Kamu yang kenapa, kok daritadi melamun terus?” Frida memasang tatapan curiga ke arah Tiara yang langsung menunduk begitu melihat tatapan Frida. “Kok diem? Kamu ada masalah?” sambung Frida setelah beberapa saat Tiara diam.

Mendengar pertanyaan Frida, Tiara jadi ingin menceritakan semuanya kepada Frida tapi takut Frida akan berprasangka negatif terhadap dirinya dan Andre. Dan bukan tidak mungkin kalau Frida akan menceritakan semuanya kepada Aira, Eril, dan Romeo juga, yang tentunya bisa membuat semua menjadi kacau, meskipun selama ini Frida tidak pernah membocorkan rahasia Tiara sekecil apapun yang Tiara ceritakan kepadanya.

“Kamu beneran ada masalah ya? Kamu bisa cerita ke aku kok, Ra,” kata Frida dengan nada yang Tiara hafal persis sebagai nada ketulusan.

Tiara menatap sebentar mata sahabatnya itu. Tiara tahu, mata Frida memancarkan ketulusan yang selalu membuat Tiara mempercayakan rahasia-rahasianya pada Frida.

Tiara menarik nafas panjang dan membuangnya dengan cepat, dan dia pun mulai menceritakan semuanya. Semua rahasianya, mulai dari e-mail Andre, kesepakatan mereka, pesan Andre di handphone-nya, sampai dengan perasaan bimbangnya. Semua hal yang sejak tadi malam disimpannya sendiri, dia lontarkan ke hadapan Frida yang dengan setia mendengarkan tanpa menyela sedikitpun.

Please, Da, please, kamu jangan berpikiran negatif tentang aku ama Andre ya,” pinta Tiara pada Frida di akhir ceritanya, sementara Frida masih tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.

Andre yang selama ini dikenalnya sebagai cowok baik-baik, dari keluarga yang dihormati, meminta hal yang tidak sepantasnya kepada cewek yang sudah dipacarinya selama 3 tahun, hanya untuk membuktikan cinta?

“Siapa yang nggak berpikiran negatif kalau jalan ceritanya jadi kayak gini, Ra?” kata Frida yang jadi emosi.

“Iya, aku tau! Tapi, tolong kamu jangan emosi, Da!” ujar Tiara. ” Aku menceritakan semuanya ke kamu supaya kamu bisa bantuin aku, bukannya malah men-judge aku dan Andre.” Airmata Tiara mulai menetes satu per sati dari pelupuk matanya.

“Tapi, Ra, ini cara yang salah dan nggak sepantasnya untuk dilakukan, bahkan untuk membuktikan cinta sekalipun,” tukas Frida sambil menghapus airmata yang membasahi pipi sahabatnya.

“Aku cuma pengen Andre tau, aku memang cinta ama dia.” Tiara menatap Frida dengan tatapan memohon.

Frida terdiam sebentar yang Tiara tahu sebagai tanda dia sedang berpikir.

Tak lama kemudian, Frida memeluk sahabatnya itu.

“Aku nggak pengen mendukung ini, tapi aku juga nggak pengen liat kamu sedih,” kata Frida sambil membelai sayang rambut Tiara. “Pokoknya, cuma kali ini aja aku nolongin kam dalam hal beginian,” sambung Frida yang sudah melepaskan Tiara dari pelukannya sambil memegang kedua bahu Tiara.

Senyum Tiara mulai mengembang. Frida bagaikan malaikat yang turun dari langit untuk membantunya. “Makasih ya, Da!” Tiara lalu memeluk Frida lagi. “Tapi kamu jangan ngasih tau siapa-siapa!” sambung Tiara sambil melepas pelukannya.

“Kapan sih, aku pernah ngebocorin rahasiamu?” gumam Frida dengan gemas. “Jadi, apa yang harus aku lakukan?”

Tiara pun menjelaskan semua rencana yang tiba-tiba saja sudah tersusun rapi di kepalanya sejak Frida mengatakan dia bersedia membantu Tiara. Tiara terus menjelaskan dan berusaha menyusun rencananya serapi mungkin sampai Aira, Eril, dan Romeo datang bersamaan, dan untungnya Tiara sudah menjelaskan semuanya kepada Frida. Tapi tetap saja ada seseorang yang curiga dengan sikap Tiara dan Frida yang jadi agak ganjil.

What About You ??

Bab 1 bagian 5 …

Konser Andre berjalan dengan sangat sukses. Semua penonton–yang sebagian besar cewek–tidak pernah berhenti berkomat-kamit mengikuti irama lagu yang dinyanyikan Andre. Mereka juga terus mengeluk-elukkan Andre dengan histeria yang hiperbola seakan mereka punya cadangan pita suara kalau seandainya tiba-tiba mereka kehilangan suara karena keseringan teriak dengan volume suara yang mampu mengalahkan pengeras suara.

Tiara juga tak henti-hentinya ikut bernyanyi seperti penonton yang lain, tapi dengan volume suara yang wajar. Dan Tiara jadi semakin semangat untuk terus bernyanyi tiap kali Andre menatapnya dari atas panggung dan menerbangkan sebuah ciuman ke arahnya.

Tiara jadi berpikir, tidak percuma selama ini dia mengoleksi semua kaset dan CD lagu Andre dan menghapal setiap kata maupun nadanya. Aira, Eril, dan Frida pun kadang-kadang ikut bernyanyi di beberapa bagian dari tiap lagu yang mereka hapal karena keseringan mendengarnya setiap kali mereka bertamu ke rumah Tiara. Atau kalau Tiara sedang amat sangat merindukan Andre samapi kadar kewarasannya jadi menipis sehingga dia menyanyi-nyanyi dengan tidak jelas dan lagu yang dinyanyikan jelas lagu Andre. Atau saat mereka semua karaokean, kalau tidak disadarkan bukan hanya dia yang membayar dan mau nyanyi, bisa-bisa semua lagu Andre akan Tiara nyanyikan tanpa memberi kesempatan kepada yang lain.

Tiara pun pulang dengan senyum yang terpampang jelas di etalase wajahnya dan sebuket bunga–yang tadi diberikan Andre melalui seorang pelayang yang begitu berjasa dalam mempertemukannya dengan Andre–di tangannya. Tiara bahkan tidak menyadari bahwa senyum bahagianya itu malah menyakiti seseorang.

“Ra, jangan gila di sini dong! Belum nyampe rumah nih,” ujar Frida yang lama kelamaan jadi ilfil melihat Tiara yang daritadi tersenyum nggak jelas.

“Itulah love syndrom yang bisa menyebabkan kegilaan sesaat tanpa disadari oleh penderitanya,” komen Aira.

Romeo menoleh ke arah Tiara kemudian berganti ke arah Aira, Eril, dan Frida. ” Aku turunin di rumah sakit jiwa aja kali, ya?” katanya.

Aira, Eril, dan Frida tertawa mendengar kata-kata Romeo yang ngasal.

“Turunin di rumahnya aja,” kata Eril yang masih tertawa.

“Sekarang belum jam 12 kan?” Frida melihat jam tangannya .

“Belum. Sekarang masih setengah 11. Kalau mau, kita masih bisa nongkrong di pantai,” usul Aira.

“Nggak mau ah! Udah ngantuk,” tolak Frida.

“Huh! Malu ama bantal, jam segini udah mau tidur,” ledek Romeo sambil mengacak-acak poni Frida sampai Frida jadi cemberut dibuatnya.

Pandangan Romeo beralih ke arah Tiara yang berjalan di sampingnya. Tapi Romeo cepat-cepay membuang mukanya.

Sepanjang perjalanan pulang, Tiara tetap tersenyum bahagia. Tadi mungkin masih bisa dimaklumi, tapi sekarang perlu dipertanyakan. Aira, Eril, dan Frida yang duduk di jok belakang mobil Romeo mulai berpikir bagaimana caranya untuk menyadarkan Tiara sebelum ketahuan gila sama orangtuanya. Mereka jadi memilih sebuah cara lama yangsemoga saja ampuh.

“Ada Andre tuh, di sana!” suara Aira mengagetkan Tiara yang langsungcelingukan mencari Andre tapi segera tersadar dia telah dikerjain setelah melihat tak ada Andre di tempat yang ditunjuk Aira tadi.

“Nggak lucu!” Tiara jadi kesal.

Sorry, kita cuma mau nyadarin kamu,” kata Aira dengan nada meminta maaf tapi menahan tawa pada suaranya.

“Nyadarin dari apa? Emangnya aku pingsan? Gila?”

“Yang terakhir hampir aja kejadian,” sambung Romeo sambil menginjak pedal rem karena ada lampu merah.

“Maksudmu?” Tiara malah nggak ngerti.

“Kamu itu daritadi senyam-senyum nggak jelas, Ra, makanya kita kira kamu crazy. Jadi, kita mau nayadarin kamu sebelum kamu terlanjur crazy beneran,” jelas Eril.

“Makasi buat kesadaran yang kalian berikan.” Tiara malah jadi jutek.

“Yah, kok marah sih, Ra? Jangan marah dong! Kita kan cuma bercanda.” Suara Aira, Eril, Frida, dan Romeo bersahut-sahutan membujuk Tiara agar tidak ngambek pada mereka. Tapi ketika radio mobil memutar lagu Andre, raut muka Tiara langsung berubah tiga ratus enam puluh derajat.

“Untung hari ini aku lagi seneng, jadi kalian aku maafin,” ujar Tiara yang suaranya berubah jadi lembut lagi sambil mengeraskan volume radio mobil Romeo.

Bukannya senang sudah mendapat maaf dari Tiara, Aira, Eril, dan Frida malah bergeleng-geleng kepala, karena lagu Andre yang membuat Tiara memaafkan mereka. Sedangkan Romeo, dia pengen banget nuntut radio yang memutar lagu Andre di mobilnya–hal yang selalu dihindrarinya–karena buat Romeo, mending Tiara ngambek sama dia, soalnya dia tahu kalau Tiara akan maafin dia lagi, daripada mendengar suara Andre. Romeo juga nggak berani matiin radionya, bisa-bisa Tiara marah besar. Romeo jadi menyesal, kenapa dia sampai lupa memasangkaset di tape mobilnya–cara yang selalu dilakukannya untuk menghindari suara Andre mengalun di dalam mobilnya–karena melihat senyum Tiara.

Romeo akhirya bisa tenang setelah mobilnya berhnti di depan rumah Tiara. Bukannya dia nggak tenang kalau ada Tiara, tapi setelah mendengar lagu Andre sampai selesai, Tiara tidak pernah berhenti berkomentar yang bagus-bagus tentang Andre yang membuat telinga Romeo jadi panas.

“Makasi ya, Rom,” kata Tiara setelah turun dari mobil Romeo dan Aira menggantikan posisinya di depan.

“Sama-sama,” cuek Romeo. “Da.”

“Sampai besok, Ra!” kata Aira, Eril, dan Frida ketika mobil Romeo mulai bergerak menjauh perlahan dari pekarangan rumah Tiara.

Tiara melangkah melewati taman sambil melompat-lompat kecil dengan senang seperti anak kecil. Bahkan Tiara tidak menyadari kalau Papa dan Mamanya menunggu dia pulang di ruang tamu. Tiara baru sadar setelah Mamanya bertanya.

“Gimana konsernya, Ra?” tanya Mama.

Tiara menghentikan langkahnya dengan posisi seakan baru mendengar suara dari dunia lain.

“Ha? Kenapa, Ma?” Tiara bertanya balik ketika akhirnya sadar suara itu adalh suara Mamanya dan bukan suara dari dunia lain seperti yang sedetik lalu dipikirkannya.

“Konser Andre gimana?” Mama bertanya lagi.

Papa geleng-geleng kepala.

“Seru banget, Ma! Penontonnya banyak banget!” jawab Tiara dengan semangat menggebu-gebu karena yang ditanyakan seputar Andre.

“Oh,” singkat Mama yang membuat Tiara sadar kalau Mamanya hanya berbasa-basi.

“Kamu tidur, gih! Sudah jam 11,” suruh Papa pada Tiara yang langsung berjalan menuju ke kamarnya setelah mengiyakan perintah Papanya.

Sampai di kamar, Tiara langsung mengganti dress-nya dengan baju tidur berupa kaos dan celana pendek, setelah itu mencuci mukanya yang penuh make-up sampai bersih dan sikat gigi.

Sekeluarnya Tiara dari kamar mandi, laptop Tiara memberi tanda bahwa ada e-mail yang masuk.

Untuk hal yang satu ini, Tiara sangat bersyukur karena orangtuanya yang kolot tetap nggak mau kalau anak mereka jadi orang yang gaptek, oleh karena itu mereka memasangkan internet di seluruh bagian rumah mereka dan mengijinkan Tiara memiliki handphone, iPod, atau baran-barang tekhnologi anak muda lainnya.

Tiara melangkah ke arah meja tempat laptopnya–yang selalu standby setiap hari, dari waktu Tiara pulang sekolah sampai Tiara tidur–ditaruh. Tiara tidak langsung membuka e-mail yang masuk di laptopnya. Tiara memperbaiki letak figura-figura foto berbagai bentuk yan terletak di sekitar laptopnya dulu. Ada fotonya sendiri, ada foto bersama Mama-Papanya, ada foto bersama adik-adiknya, ada foto bersama para sahabatnya, dan foto Andre yang akhirnya dapat dia pajang setelah orangtuanya tahu kalau dia pacaran dengan Andre.

Setelah semua figura rapi , Tiara mulai menggerakkan mouse laptopnya untuk membuka e-mail yang tadi masuk.

Ternyata dari Andre.

Tiara memperbaiki posisi duduknya sebelum membaca e-mail Andre.

From : Andretopsinger@yahoo.com

Subjek : Chat yuk!

Sayang, kamu udah tidur belum? kamu masuk ke YM! ya, aku mau chat ma kamu.

Tanpa babibu, Tiara pun menutup e-mail Andre dan langsung  masuk ke program yahoo messenger dan benar saja, Andre sedang online.

Tiara : Aku belum tidur kok, sayang!

Andre : Kamu baru nyampe atau udah daritadi?

Tiara : Udah daritadi. Kamu udah di kamar ya?

Andre : Iya, sayang. Capek banget nih! houfph …

Tiara : Kamu capek tapi kok malah ngajakin aku chating? Mending kamu tidur aja deh, sayang

Andre : Aku nggak bisa tidur, aku juga udah bilang ama kamu kan, kalau ada yang mau aku omongin

Tiara : Oh iya! sampai lupa. Emang mau ngomong apa?

Andre : Mmm …

Tiara : Kok cuma “mmm” ?

Andre : Aku nggak tau mesti mulai dari mana

Tiara : Emang mau ngomong apa sih? Kok sampai seribet itu?

Sesaat Andre tidak membalas pesan Tiara dan membuat Tiara jadi bertanya-tanya, apa yang sebenarnya ingin Andre katakan kepadanya?

Andre : Aku ingin menghabiskan malamku besok cuma sama kamu

Tiara agak bingung dengan kata-kata Andre.

Tiara : Maksudnya? Kamu pengen jalan sama aku besok malam?

Andre : Bukan! Bukan itu maksudku!

Tiara : Terus?

Andre : Berdua sama kamu. Semalaman.

Tiara berpikir sebentar untuk menemukan maksud tersembunyi dari kata-kata Andre pada pesannya. Dan kemudian, seakan ada lampu yan menyala di kepalanya, Tiara menyadari maksud Andre.

Tiara : Kamu lagi bercandain aku ya, sayang?

Andre : Aku nggak bercanda, sayang! Aku bener-bener pengenin itu terjadi!

Tiara shock membaca pesan Andre. Tapi Tiara mencoba menyadarkan dirinya dari kekagetannya.

Tiara : Tapi kenapa, Ndre? Kita belum ada ikatan

Andre : Aku ingin kita saling memiliki seutuhnya. Kamu jadi milikku dan aku jadi milikmu

Tiara : Apa nggak ada cara lain?

Andre : Aku yakin hanya dengan ini caranya

Tiara sangat ingin menolak, tapi dia juga tidak ingin Andre berpikiran kalau dia tidak mencintai Andre.

Tiara terdiam beberapa saat tanpa membalas pesan Andre. Andre yang tahu Tiara sedang berpikir, tidak menuntut Tiara untuk segera membalas pesannya. Setelah merasa sudah cukup lama membuat Andre menunggu, Tiara pun menggerakkan jemarinya di laptop dengan ragu-ragu sambil berpikir, apakah ada cara lain?

Tiara : Terserah kamu, sayang

Tiara menekan tombol enter dengan perasaanserba salah, antara marah, sedih, kecewa, dan senang karena dapat membahagiakan  Andre.

Andre : Terima kasih, sayang. Luv u!

Tiara : Luv u, too

Setelah mematikan laptopnya, Tiara langsung berbaring di tempat tidurnya. Seluruh organ tubuhnya sangat lelah, tapi matanya tak mau terlelap karena otaknya masih sibuk memikirkan apa yang baru saja dia dan Andre sepakati.

Cinta atau dosa?

Kesalahan yang indah atau keindahan yang salah?

Tiara tidak tahu. Bahkan dia tidak tahu kapan akhirnya otak dan matanya berkompromi dengan organ tubuhnya yang lain untuk istirahat setelah seharian menjalani kebahagiaan dan ketidakmengertian secara bersamaan.

What About You ??

Bab 1, bagian 4 …

Waktu seakan berjalan sangat lambat dalam diam mereka.Tiara beberapa kali melirik jam tangannya dan berdasarkan perhitungannya sejak dia dan Andre ditinggalkan berdua oleh Kak Louie, sudah hampir lima menit mereka hanya diam tanpa ada yang berani memulai. Andre juga sudah terlihat tidak nyaman dengan suasana ppenuh kebisuan di antara mereka. Dan karena benar-benar sudah tidak tahan lagi dengan keheningan yang merajai di suasana pertemuan pertama mereka itu, akhirnya Andre memutuskan untuk mulai berbicara duluan.

“Kamu apa kabar, Ra?” tanya Andre dengan basa-basi padahal dia tau Tiara baik-baik saja.

“Kabarku baik-baik saja. Kalau kamu?” Tiara menjawab seadanya karena sedikit kecewa Andre hanya menanyakan kabarnya.

“Aku juga baik-baik aja.”

Entah kenapa, suasana kembali sunyi senyap.

Tiba-tiba Andre melangkah pelan mendekati Tiara yang jadi kaget melihat Andre berjalan ke arahnya. Tiara yang tadinya kecewa karena basa-basi Andre, sekarang malah meminta lebih banyak basa-basi dalam hatinya agar dia tidak perlu salah tingkah seperti ini.

Ini bukan pertama kalinya dia hanya berduaan dengan Andre, bukan juga pertama kalinya Andre berjalan mendekatinya, tapi ini pertemuan pertama mereka setelah hampir setahun tidak pernah bertemu muka, jadi jangan salahkan Tiara kalau dia jadi agak grogi.

Bahkan setelah Andre berdhenti dan berdiri hanya 5 senti di depannya–sehingga hidungnya dapat menghirup wangi parfum Andre sebanyak-banyaknya–dan kemudian memegang kedua tangannya, jantung Tiara malah berdetak makin kencang tidak karuan.

“Tiara,” Andre menyebut singkat nama Tiara dengan kesan seaka memanggil.

“Iya, Ndre,” jawab Tiara dengan gugup.

“Aku kangen sama kamu.” Dengan gerakan yang sangat cepat, Andre langsung merengkuh Tiara ke dalam pelukannya. Memeluknya dengan sangat erat seakan tidak ingin melepaskan Tiara. Tiara pun balas memeluk Andre yang sangat dirindukannya, seperti yang diharapkannya sejak sejam setelah pesawat Andre lepas landas dari Bandara Hasanuddin menuju ke Bandara Soekarno-Hatta untuk mengejar mimpinya menjadi penyanyi terkenal yang kini menjadi kenyataan.

“Setiap hari aku selalu berharap bisa memeluk kamu kayak gini lagi, bisa berdiri di depan kamu dan mendengar suara kamu secara langsung kayak dulu lagi bisa nyanyi buat kamu tiap kita ketemu di taman perumahanmu. Aku kangen semua saat-saat itu, Ra.” Andre mengungkapkan semua isi hatinya yang sudah lama dipendamnya untuk kekasihnya, Tiara, yang selalu setia menunggunya. Isi hati tentang perasaan cinta yang menggebu-gebu karena besarnya perasaan rindu dari jauhnya jarak yang memisahkan mereka.

“Aku juga kangen sama kamu. Kangen dengar suara kamu, kangen dengan senyum kamu, kangen dengan semua hal tentang kamu.” Tiara tidak dapat lagi menahan genangan airmata di pelupuk matanya. Pelan-pelan tetes-demi tetes airmatanya jatuh membasahi pipinya.

“Kamu nangis, Ra?” tanya Andre sambil melepas pelukannya untuk melihat wajah Tiara. “Kenapa nangis, sayang?” Andre menyeka airmata yang menetes di pipi Tiara.

“Aku nangis karena seneng ketemu sama kamu,” kata Tiara sambil menghapus airmatanya.

“Aku juga seneng tapi nggak sampai nangis kok?” goda Andre.

“Kamu kan cowok, cewek emang lebih sensitif,” manja Tiara sambil memonyong-monyongkan mulutnya seperti anak kecil.

Andre tertawa melihat tingkah Tiara yang selalu bisa menghiburnya. Andre menarik Tiara kembali ke dalam pelukannya lagi. Sesekali Andre menciumi kepala Tiara dengan sayang sementara Tiara bermanja-manja dalam kehangatan pelukan Andre.

I love you,” ucap Andre.

Tiara sedikit mendongak untuk melihat Andre. “I love you, too,” balas Tiara yang langsung mendapat sebuah kecupan dari Andre di keningnya.

Tiba-tiba sebuah tubuh nyelonong masuk dari balik pintu. Kak Louie. Tapi setelah melihat Andre yang sedang mencium kening Tiara, dia langsung berputar kembali kelaur sambil mengatakan, “Sorry ganggu. Nggak sengaja.”

Tapi tak lama kemudian kepalanya mengintip lagi dari balik pintu dan berkata, “5 menit lagi ya, Ndre!” dan setelah itu pintu pun tertutup rapat kembali.

Tiara melepas pelukannya dari Andre.

“Kayaknya aku mesti balik ke mejaku dan kamu mesti siap-siap sebelum nyanyi,” ujar Tiara sambil merapikan baju dan dasi Andre yang jadi agak berantakan setelah memeluknya.

“Besok kamu ada waktu nggak, sayang?” tanya Andre.

“Emangnya kenapa?” Tiara balik bertanya.

“Kamu jawab dulu pertanyaanku,” kata Andre.

“Aku nggak bisa kasih jawaban kalau nggak tau ada apa,” Tiara tidak mau kalah.

“Aku pengen ketemu sama kamu dan ada sesuatu hal yang lain. Nanti aku kirim SMS  ke hapemu,” terang Andre.

Tiara jadi agak penasaran dengan kalimat terakhir Andre. Tapi dia memutuskan untuk mengatakan “ok” agar dapat menyenangkan hati Andre.

Setelah saling mencium pipi dan kening, Tiara pun keluar dari ruangan Andre agar Andre dapat bersiap-siap untuk konsernya. Tiara melangkah dengan hati yang berbunga-bunga dan senyum tersungging lebar. Kak Louie yang melihat sikap Tiara itu sampai bingung sendiri, dapat dilihat dari sebelah alisnya yang terangkat, tapi setelah itu dia langsung masuk ke dalam ruangan artisnya.

“Kamu apain tuh, anaknya orang sampai kayaknya senang gitu?” tanya Kak Louie pada Andre setelah menutup rapat pintu di belakangnya.

“Nggak diapa-apain kok. Namanya juga pacar yang baru ketemu lagi, ya senenglah bawaannya,” kata Andre dengan cueknya karena sudah tahu apa yang ada di pikiran managernya itu.

“Nggak ada kejadian yang gimana gitu?” Kak Louie menggunakan jari telunjuk dan jari tengah kedua tangannya untuk membuat tanda kutip ketika mengucapkan kata “gimana gitu” sambil senyum-senyum jahil.

“Jangan fiktor!”

Sementara itu Tiara bagaikan di awang-awang setelah bertemu dengan Andre. Ruangan yang tadinya dia langkahi dengan hati-hati ditambah muka cemberu karena penuh sesak dengan orang sibuk dan berbagai macam benda yang terlihat berbahaya, kali ini dilangkahinya dengan hati-hati juga, tapi ditambah muka penuh senyum. Kalau di komik, mungkin sudah banyak gambar hati atau bunga di sekitar kepalanya.

Bahkan ketika dia sampai di mejanya, senyumnya belum juga habis. Aira, Eril, dan Frida malah saling pandang dengan heran karena Tiara yang tidak hentinya tersenyum.

“Kamu kenapa, Ra?” tanya Aira yang mulai khawatir dengan Tiara yang mungkin saja jadi gila mendadak setelah bertemu Andre.

“Aku lagi happy berat,” kata Tiara dengan semangat dan senyumnya malah makin lebar.

Aira, Eril. dan Frida jadi geleng-geleng kepala, sedangkan Romeo memutar boal matanya dengan kesal sambil berusaha mengalihkan perhatiannya dari dari wajah bahagia Tiara yang justru membuatnya kesal setengah mati.

What About You ??

Bab 1 bagian 3 ..

Mereka baru saja sampai di hotel tempat konser Andre diadakan. Mobil Romeo juga sudah diambil alih oleh valet. Tiara tampak gugup. Dia melihat setiap cewek yang melintas di depannya dengan perasaan putus asa.

“Kamu kenapa, Ra?” tanya Frida yang heran melihat tingkah Tiara meremas-remas jarinya.

“Aku udah cantik kan? Rambutku masih bagus nggak? Make-upku belum luntur kan?” tanya Tiara bertubi-tubi seakan Frida tidak bertanya dan seakan waktu yang diberikan untuk bertanya hanya sedetik.

“Kamu udah cantik banget, Ra! Semuanya juga masih pada tempatnya, masih bagus,” jawab Eril yang jadi ikut-ikutan bingung dengan tingkah Tiara.

“Kamu gugup, Ra?” tanya Romeo.

Tiara mengangguk cepat.

“Nggak usah gugup, Ra!” gumam Aira.

Gimana nggak gugup kalau semua cewek yang lewat di depanku gayanya sama nge-jreng-nya ama seleb, sama cantiknya ama Luna Maya? Batin Tiara.

“Kamu yang paling cantik kok, Ra,” kata Romeo yang seperti tau apa yang dipikirkan Aira.

Tiara berpaling kepada Romeo dengan tatapan kamu-tau-apa-yang-aku-pikirkan-ya? Tapi Romeo tidak menyadari arti tatapan itu dan malah mengajak ke empat sahabatnya untuk segera masuk.

“Masuk, yuk!” ajak Romeo.

Mereka berlima pun langsung masuk ke dalam hotel dan menuju ke bagian kafe, tempat konser Andre berlangsung.

Suasana di dalam kafe sudah sangat ramai. Mereka berusaha mencari meja mereka dengan susah payah karena banyaknya orang yang sudah memenuhi kafe itu.

“EEh, ini nih,meja kita,” kata Frida dengan semangat sambil menunjuk-nunjuk sebuah meja bundar dengan 6 kursi yang masih kosong.

Tiara, Aira, Eril, dan Romeo yang sudah berjalan lumayan jauh di depan Frida pun memutar balik badan mereka untuk menuju ke meja yang ditunjuk Frida.

“Nomor 5 nih?” tanya Romeo untuk memastikan sambil melihat potongan tiketnya yang sudah dipotong di pintu masuk kafe.

“Iya, udah bener,” Frida meyakinkan Romeo sambil mengangkat sebuah papan plastik warna hitam yang bertuliskan angka 5 besar berwarna putih.

Setelah yakin, mereka langsung menghempaskan diri di kursi-kursi meja itu yang sudah ditata cantik dengan se-vas bunga aster warna-warni dan beberapa piring dan gelas kosong, serta sendok dan garpu perak di kiri dan kanan piring.

“Enak banget ya, kalau jadi tamu VVIP,” komen Frida.

“Gila, penontonnya banyak banget!” komen Aira.

“Namanya juga artis baru, suaranya bagus, ditambah tampang cakep, gimana nggak banyak fans-nya,” Eril ikut berkomentar juga.

“Tapi masih cakepan aku kok,” kata Romeo dengan PDnya.

“Huh!” sahut Tiara, Aira, Eril, dan Frida berbarengan sambil berpura-pura ingin melempar gelasnya masing-masing ke arah Romeo.

“Fakta berbicara,” singkat Romeo dengan cueknya.

Aira dan Frida memutar bola mata mereka karena baru sadar sahabat mereka yang satu ini kadar PDnya sudah melewati ambang batas normal.

“Permisi, ini meja Mbak Tiara?” tiba-tiba seorang pelayan datang dengan sebuket bunga mawar merah dan putih di tangannya.

“Iya, saya Tiara. Ada apa ya, mas?” Tiara merasa bingung dengan  kehadiran pelayan itu yang menanyakan tentang dirinya ditambah lagi dengan kehadiran sebuket bunga di tangan pelayan itu.

“Ini Mbak, ada bunga dari Mas Andre. Katanya untuk Mbak Tiara,” kata pelayan itu dengan senyum mengembang sambil menyerahkan buket mawar di tangannya kepada Tiara yang langsung menerimanya dengan perasaan senang sekaligus bingung.

“Andre?”Tiara bertanya pada dirinya sendiri.

“Iya Mbak, Mas Andre yang sebentar mau nyanyi,” kata pelayan itu dengan polosnya karena mengira Tiara bertanya padanya.

“Makasi ya,” ucap Tiara dan pelayan itu pun berlalu untuk kembali bekerja.

“Cieee… Suit, suit! Romantisnya,” goda Aira dengan jahilnya.

“Apaan sih?” muka Tiara bersemu merah tanda malu.

“Ada kartunya tuh, baca!” paksa Frida dengan semangat.

Tiara lalu mengambil sebuah kartu berwarna putih dengan banyak gambar hati warna merah dan ungu yang terselip di antara bunga-bunga mawar pada buketnya, kemudian membuka kartu itu dengan mode slow motion yang bikin gemaspara sahabatnya.

Gimana bunganya? Kamu suka? Itu bunga kesukaanmu kan? Aku tunggu kamu sekarang di tempatku ya, sayang…

Love,

Andre

Tiara senang bukan main membaca pesan dari Andre itu. Saking senangnya dia langsung meninggalkan mejanya beserta bunga dan kartu dari Andre tergeletak di atas meja dan membiarkan sahabat-sahabatnya terbengong-bengong.

“Isi suratnya apa sih?” Aira jadi penasaran sehingga dia langsung menyambar kartu itu dan membacanya. “Ah, so sweet!” kata Aira kemudian.

Kartu yang ditujukan hanya untuk Tiara itu akhirnya dioper-oper ke Eril kemudian Frida, dan semuanya juga berkomentar sama dengan Aira, “Ah, so sweet!”

Namun ketika kartu itu sampai ke tangan Romeo, wajah Romeo langsung berubah drastis, dari santai menjadi merah padam seakan siap untuk meledak kapan saja. Dengan kesal Romeo mengembalikan kartu itu ke buket bunganya.

Sebenarnya Romeo sangat ingin menginjak-injak buket bunga dan kartunya itu, tapi kalau dia melakukan itu, Tiara akan sedih, Tiara akan bertanya mengapa, dan semua rahasianya akan terbongkar, jadi Romeo memilih untuk mengurungkan niatnyadan bersabar sampai saatnya tiba. Sedangkan Aira, Eril, dan Frida malah sibuk memuji keromantisan Andre sehingga tidak menyadari perubahan raut wajah Romeo.

Sementara itu Tiara jadi kebingungan sendiri karena kenekatannya yang langsung meninggalkan meja tanpa meminta ditemani oleh salah satu sahabatnya dulu. Tiara nyadar banget kalau dia itu orang yang suka bingung sendiri kalau sudah mulai tidak tahu apa-apa, apalagi kalau jalan sendirian kayak begini. Ditambah lagi kata-kata Andre pada kartu itu amat sangat tidak jelas.

Di tempatku.

Tempatmu dimana sih, Andreku sayang? Jerit Tiara dalam hati. Mana dia type orang yang pemalu banget kalau soal nanyak-nanyak. Tapi demi bertemu Andre secepatnya, rasa malu itupun harus dikuburnya dalam-dalam.

Dalam kebingungannya sambil celingukan kiri-kanan nggak jelas untuk mencari seseorang yang mungkin bisa ditempati bertanya, tiba-tiba ada sebuah tangan yang menepuk pundaknya. Tiara yang kaget langsung memutar balik badannya.

“Nyari apa, Mbak Tiara?” tanya pelayan yang tadi mengantar bunga ke meja Tiara dan para sahabatnya .

Lucky!

“Eh, kamu. Anu, aku mau ketemu Andre. Kamu tau dia dimana?” tanya Tiara sambil tersenyum lega karena bertemu orang yang kemungkinan besar bisa membantunya bertemu Andre.

“Oh. Mari saya antar, Mbak.” Pelayan itu berjalan duluan di depan Tiara untuk menunjukkan jalan menuju ke tempat Andre sesuai dengan permintaan Tiara.

Tiara merasa sangat beruntung bertemu cowok pelayan itu. Benar-benar beruntung! Mereka masuk ke sebuah ruangan di  luar dari kafe tempat acara. Tapi, meskipun bukan lagi di kafe yang penuh sesak, Tiara tetap tidak dapat bergerak secara leluasa karena banyaknya orang, nggak cewek nggak cowok, yang mondar-mandir dengan sibuknya sambil membawa berbagai macam benda, mulai dari benda kecil seperti hair dryer sampai benda besar yang menurut Tiara adalah pengeras suara. Tiara dan pelayan yang menunjukkan jalan padanya sampai harus memiring-miringkan badan agar dapat berjalan tanpa tertabrak, tersandung, atau apapun yang dapat membuat mereka jadi babak belur di ruangan ini.

Banyaknya benda-benda besar yang sepertinya berbahaya juga membuat mereka harus waspada dalam melangkah, salah-salah mereka bisa dituntut untuk mengganti benda-benda itu karena mereka tabrak tanpa sengaja.

Tiara akhirnya dapat bernapas lega setelah sampai di ujung ruangan yang terdapat sebuah pintu lagi, tapi pintu yang ini dengan 2 orang bodyguard yang tubuhnya besar penuh otot dan tampak seram dengan muka sangar mereka. Tiara tidak mampu menatap kedua pria berpakaian serba hitam, standar seragam bodyguard di televisi itu, jadi dia hanya menunduk.

“Kita ngapain di sini?” tanya Tiara pada pelayan di depannya itu dengan sedikit mengeraskan volume suaranya karena ributnya orang-orang di ruangan itu.

“Katanya, Mbak Tiara mau ketemu sama Mas Andre?” bingung pelayan itu dengan suara yang sama kerasnya dengan suara Tiara tadi.

“Iya, tapi kenapa kita malah ketemu sama 2 bapak yang gede-gede ini?” Tiara melirik sekilas ke arah dua bodyguard itu, tapi langsung membuang mukanya lagi karena benar-benar takut sambil berharap agar para bodyguard itu tidak mendengar suaranya.

“Ini ruangannya Mas Andre, Mbak,” kata pelayan itu sambil menunjuk pintu yang dijaga 2 bodyguard itu. “Bapak-bapak ini bodyguard-nya Mas Andre,” tambahnya. “Tadi saya disuruh ngasih bunga ke Mbak juga di sini,” tambahnya lagi untuk meyakinkan Tiara.

“Terus, gimana caranya saya bisa masuk?” tanya Tiara yang mulai tidak sabar.

Untuk jawaban dari ketidaksabaran Tiara itu, pelayan itu pun menanyakan keberadaan Andre dalam ruangan itu.

Awalnya Tiara berpikir,”Ini pelayan nekat atau gimana sih? PD banget bertanya sama para bodyguard yang serem-serem ini,” tapi ternyata pikiran Tiara itu melesat jauh. Para bodyguard itu malah menjawab dengan santun dan disertai dengan senyum ramah yang bersahabat, tidak seperti tadi.

Setelah beberapa saat, pelayan itu berbalik lagi ke arah Tiara.

“Kok mereka bisa jadi ramah begitu?” sambar Tiara sebelum pelayan itu mendahuluinya bicara.

“Mana saya tahu, Mbak. Saya cuma nyebut nama Mbak, mereka langsung senyum manis,” kata pelayan itu apa adanya.

“Terus, mereka bilang apa?” tanya Tiara.

“Kata mereka, Mas Andre masih di dalam dan katanya nggak mau keluar buat nyanyi sebelum ketemu sama Mbak,” jawab pelayan itu.

Tiara jadi berbunga-bunga mendengarnya. Artis setenar Andre, yang digandrungi puluhan ribu cewek cantik se-antero Indonesia Raya, tidak mau melakukan konsernya kalau belum beretemu dengannnya? Meskipun pacar sendiri, tapi Tiara senang bukan main karena hal itu.

“Nona Tiara, silahkan masuk,” kata salah satu bodyguard, yang menjaga di sisi kanan pintu, itu yang tersenyum sangat ramah.

“Kalau begitu, saya permisi ya, Mbak. Masih ada kerjaan,” pamit pelayan itu yang kemudian berlalu setelah Tiara mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya karena sudah membantunya untuk bertemu Andre.

Tiara tersenyum ke arah kedua bodyguard itu dengan bergantian sambil menekan ke bawah pegangan pintu dan mendorong pintu itu dengan perlahan.

Tiara merasa deg-degan tidak keruan ketika membuka pintu itu, apalagi setelah berada di dalam ruangan di balik pintu itu.

Ruangan yang penuh dengan bunga dan banyak hadiah lainnya dengan kartunya masing-masing. Ada juga sebuah sofa yang berbentuk L di pojok kiri ruangan plus mejanya, dan sebuah meja rias yang langsung berhadapan dengan pintu.

Tiara berdiri terpaku membelakangi pintu yang sudah ditutupnya kembali itu sambil memandangi sesosok cowok –berkacamata yang tubuhnya berbalut kemeja hitam, sweater rajutan abu-abu tanpa lengan, dan sebuah dasi warna biru tua yang sangat keren, plus celana panjang jeans dengan ikat pinggang berkepala besar yang cowok banget, dan sepatu yang kelihatannya tidak murah– sedang duduk di sebuah kursi, tidak menghadap ke arahnya, tapi ke arah seorang cowok lain dengan gaya santai, kaos oblong warna biru dan celana jeans ditambah sendal jepit, yang terlihat mengomel.

“Aku mau nunggu Tiara dulu!” kata Andre dengan tegas.

Tiara terbuai dengan suara Andre yang kerennya setengah mati minta ampun. Suara yang sudah lama tidak didengarnya secara langsung, suara yang dulu sering bernyanyi di sampingnya sambil bermain gitar ketika mereka bertemu di taman perumahan tiap sore.

Tapi kenapa nggak sadar juga sih, kalau aku sudah berdiri dengan jarak yang kurang dari 1 meter dari dia? Batin Tiara.

“Tapi kalau pacar kamu itu nggak datang, gimana? Masa kita mau ngebatalin konser ini cuma karena dia?” ledak cowok yang sepertinya manager Andre itu.

“Tiara pasti datang! Pasti!” yakin Andre.

“Ehem,” Tiara berdehem untuk menyadarkan kedua orang itu pada kehadirannya.

Kedua orang itu pun berhenti berdebat dan berbalik ke arah Tiara.

Andre dan managernya terdiam sambil menatap Tiara dengan tatapan yang tidak dapat Tiara artikan, yang pastinya Tiara jadi merasa tengsin karena ditatap oleh 2 orang cowok seperti itu.

“Hallow?” kata Tiara sambil menggerak-gerakkan 5 jari tangan kirinya untuk menyadarkan kedua orang itu setelah merasa mereka sudah cukup lama menatapnya seperti itu.

Dan yang pertama sadar adalah si manager.

“Eh, hai, halo,” katanya dengan salah tingkah. “Kamu Tiara?” tanyanya kemudian setelah mampu mengendalikan ke-salting-annya.

“Iya,” singkat Tiara sambil memamerkan lesung pipi di pipi kirinya.

Tiara melirik sebentar ke arah Andre yang juga sudah mulai tersadar dan sedang memperbaiki letak kacamatanya serta duduknya yang juga jadi salah.

“Saya Louie, tapi kadang-kadang juga dipanggil Fat Louie, kayak kucing yang di Princess Diaries itu, soalnya ukuran saya yang extra large. Hehehe. Saya managernya Andre,” Louie, manager Andre yang memang lumayan gemuk, memperkenalkan dirinya sambil menjabat tangan Tiara dengan kencang sampai Tiara merasa tangannya pegal.

“Salam kenal ya,” cuma itu yang dapat Tiara ucapkan untuk pekenalannya dengan seorang manager artis, sesaat sebelum jabat tangan yang melelahkan selesai.

“Kamu cantik juga, mau nggak jadi artis? Nanti saya yang promosiin kamu ke produser-produser.” Dasar manager, paling bisa deh, kalau urusan mencari minat, bukan bakat.

Tiara hanya tersenyum sambil berkata,” Nggak usah Mas, saya nggak ada minat jadi artis.”

“Kok Mas sih? Saya kayak orang Jawa aja. Saya juga orang Makassar kok. Jadi panggilnya Kak aja,” koreksi Kak Louie.

“Iya Mas, eh, Kak Louie,” ujar Tiara yang masih tahan tersenyum manis.

“Ehem,” kali ini bukan Tiara yang berdehem melainkan Andre yang kini sudah bangkit dari duduknya.

Tiara merasa Andre jadi bertambah tinggi. Apa karena faktor keartisan atau dia yang tambah pendek? Tidak ada hubungannya dan tidak mungkin.

“Kalau gitu, saya keluar dulu ya,” pamit Kak Louie pada Tiara setelah dipelototi oleh Andre. ” Cepetan ngobrolnya, biar kamu bisa cepat nyanyi!” kata Kak Louie pada Andre sebelum akhirnya keluar dari ruangan itu dan meninggalkan Tiara hanya berdua dengan Andre.

Saling diam, tidak tahu siapa yang harus mulai duluan dan harus mulai dari mana.


What About You ??

Bab 1 bagian 2 ..

“Ra, kamu udah siap belum?” tanya Eril dari luar pintu kamar Tiara yang masih bersiap-siap.

Malam ini adalah konser Andre, dan Tiara ingin tampil semaksimal mungkin agar tidak mengecewakan Andre di pertemuan mereka setelah hampir setahun mereka tidak bertemu. Tiara tidak ingin membuat Andre malu karena mempunyai pacar orang biasa, apalgi kalau nggak bisa tampil cantik, paling nggak kayak Luna Maya. Hehehe.

Tiara menyapukan blush-on di pipinya untuk polesan terakhir pada wajahnya.Setelah semua make-up selesai terpoles dengan sempurna di wajahnya, Tiara berdiri dan berputar ke kiri dan ke kanan untuk melihat apakah dress yang dipakainya juga sesempurna make-upnya. Tiara merapikan sedikit bagian bawah dress-nya dan kembali menatap dirinya di cermin.

“Sempurna,” gumam Tiara dengan senang dan kemudian menyambar tas tangan kecilnya di tempat tidur.

“Lama deh, bu,” keluh Aira yang terduduk di sofa dengan muka cemberut karena kecapekan menunggu Tiara dandan.

“Maaf ya,” ucap Tiara dengan nada bersalah karena sudah membuat sahabat-sahabatnya menunggu lama.

“Kamu harus maklum dong, ini kan malam pertemuan pertama Tiara dengan Andre setelah terpisah jarak sampe setahun,” kata Frida dengan bijaknya.

“Iya, iya. Sekarang udah bisa berangkat kan?” Aira yang biasanya tidak mau kalah kali ini memilih untuk mengalah.

“Tunggu! Romeo mana?” tanya Tiara yang tidak melihat kehadiran Romeo di rumahnya.

“Bukannya di nggak mau ikut karena sibuk?” ujar Aira dengan penekanan pada kata terakhir.

Baru saja Eril membuka mulutnya untuk mengatakan bahwa mereka tidak perlu menunggu Romeo lagi kalau memang pada dasarnya Romeo nggak mau ikut, tiba-tiba Romeo muncul.

“Aku tepat waktu kan?” tanya Romeo sambil senyum-senyum.

“Katanya nggak mau pergi? Sibuk?” ledek Frida.

“Tapi gayanya yang paling pol-polan nih,” sambung Aira.

“Yang mau konser, kamu atau Andre sih?” heran Eril dengan penampilan Romeo yang sudah mampu menyaingi artis, mungkin.

“Baru pertama kali ngeliat cowok cakep ya?” balas Romeo untuk ledekan para sahabatnya itu. “Aku kan mesti jagain kalian, kalau kalian ada yang ilang, gimana? Kan bisa repot! Jadi mau nggak mau, aku mesti mau pergi buat ngejagain kalian,” sambung Romeo.

“Kamu yang mesti dijagain biar nggak ilang. Disana banyak cewek cantik,” omel Frida.

“Cantik banget kamu, Ra,” puji Romeo yang langsung mengalihkan perhatiannya pada Tiara dan membuat Frida merasa dikacangi.

“Kacang, kacang,” kata Frida menirukan penjual kacang.

“Makasi. Kamu juga keren malam ini,” Tiara balas memuji Romeo yang jadi sumringah.

“Udah deh, saling memujinya. Sekarang waktunya kita berangkat sebelum terlambat!” Aira yang tidak sabaran mulai sewot.

“Aku ijin dulu ya, sama ortu,” kata Tiara sambil berlalu mencari orangtuanya.

Tidak lama kemudian Tiara muncul dengan kedua orangtuanya.

“Apa kabar semua?” sapa Mama Tiara dengan ramahnya.

“Baik, tante,” jawab Aira, Eril, Frida, dan Romeo berbarengan.

“Kalian beneran mau nonton konsernya Andre saja kan?” tanya Papa Tiara dengan penuh selidik.

“Iya, om,” jawab mereka lagi dengan kompak.

“Setelah itu nggak kemana-mana lagi kan?” tanya Papa Tiara lagi.

“Nggak, om,” kompak mereka lagi.

“Kalian naik apa kesana?” kali ini Mama Tiara yang bertanya.

“Saya baa mobil kok, tan. Jadi Tiara aman,” kali ini hanya Romeo yang menjawab.

“Oh. Kalau begitu, kalian jagain Tiara ya, jangan sampai ada yang gangguin dia. Terus Tiara sudah harus pulang jam 12,” terang Mama Tiara.

“Kayak Cinderella aja, tan,” canda Frida yang nggak sesuai tempat dan orang yang dibencandain, karena orangtua Tiara adalah orang yang kolot, dimana yang muda harus menjaga kesopanan di hadapan yang lebih tua, utamanya dalam hal ucapan.

Malam ini saja Tiara bisa keluar nonton konser setelah mereka minta tolong Mama Aira untuk nelpon Mama Tiara supaya Tiara dikasih ijin nonton konser. Itu juga sebenarnya orangtua Tiara mau menolak karena konsernya malam –yaelah tan, jaman sekarang mana ada konser di hotel yang diadainnya siang bolong?– , tapi karena nggak enak dengan Mama Aira yang sampai bela-belain nelpon segala, akhirnya orangtua Tiara ngasih ijin. Yang biasanya cuma boleh nongkrong malam minggu di kafe yang orangtuanya udah tau, malam ini Tiara boleh nonton konser. Hebat banget, menurut Tiara.

Selain itu, orangtua Tiara juga sudah lama mengenal sahabat-sahabat Tiara, jadi mereka percaya kalau Tiara jalannnya sama para sahabatnya itu. Tapi, tetep aja, ijinnya dilengkapi dengan beberapa peraturan kekolotan.

Tiara membulatkan matanya ke arah Frida yang langsung sadar sudah keceplosan sebelum orangtuanya mulai ceramah tentang pentingnya untuk menjaga tutur kata di depan orangtua dan orang yang lebih tua atau orang yang memang terlanjur tua. Tiara pun berusaha mengalihkan perhatian orangtuanya dengan segera meminta ijin pergi.

“Ingat ya, jam 12!” Mama Tiara mengingatkan ketika mengantar Tiara dan para sahabatnya ke pintu.

“Iya, Ma,” jawab Tiara.

“Ortumu emang kolot banget ya,” komen Eril setelah mereka semua sudah di dalam mobil Romeo. “Jaman sekarang masih juga dilarang pulang lewat tengah malam. Ckckck,” tambahnya.

Kan demi kebaikanku,” ujar Tiara.

“Tapi tetep aja kamu langgar kan?” sambung Aira.

“Langgar apa?” bingung Tiara.

“Dilarang pacaran sampai lulus SMA,” kata Aira yang tahu persis aturan orangtua Tiara itu yang sudah berlaku sejak pertama kali Tiara bertanya pada orangtuanya, apakah dia sudah boleh pacaran atau belum, atau tepatnya sejak kelas 1 SMP. Dan Tiara tetap saja melanggarnya. Bahkan sejak saat itu, Tiara sudah punya 9 mantan pacar dan semuanya backstreet.

“Tapi sekarang kan udah dibolehin,” tukas Tiara dengan senang.

“Iya, tapi dilarang pergi berduaan kalau belum ada ikatan yang resmi alias tunangan,” sambung Eril yang juga tahu peraturan baru dari orangtua Tiara setelah merestui hubungan Tiara dan Andre yang sebelumnya sudah backstreet cukup lama dan baru ketahuan setelah Andre jadi artis.

“Kamu kayak putri Keraton aja ya, Ra,” komen Romeo yang juga ikutan nimbrun sambil menyetir mobilnya.

“Maksudnya?” tanya Tiara yang duduk di jok depan di samping Romeo.

“Banyak aturannya,” jawab Romeo.

“Mau diapain lagi, ortuku emang kayak gitu,” kata Tiara sambi tersenyum pasrah.

Lampu merah. Romeo menghentikan mobilnya dan menatap Tiara dengan pandangan yang agak berbeda, samapi-sampai Aira, Eril, dan Frida juga jadi merasa ada yang aneh dari tatapan Romeo.

“Kamu kenapa ngeliatin aku kayak gitu?” Tiara jadi merasa tidak enak ditatap oleh Romeo.

“Kamu nggak mirip putri Keraton sih,” kata Romeo kemudian bersamaan dengan pijakan kakinya yang menginjak pedal gas karena lampu sudah berubah warna menjadi hijau.

“Huh, aku kira kenapa!” Frida yang duduk tepat di belakang Romeo langsung menjitak kepala Romeo yang malah tertawa terbahak-bahak disusul oleh Tiara, Aira, dan Eril yang sebenarnya pengen marah karena Romeo menginjak pedal gas dengan tiba-tiba sampai membuat mereka jantungan.

Mereka semua lalu saling bercerita mengenai berbagai hal, dari soal awal persahabatan mereka sampai lagu terbagus dan terjelek menurut mereka masing-masing, sampai akhirnya mereka sampai di tempat  tujuan. Hotel tempat konser Andre.

What About You ??

Bab 1, bagian 1 …

Seminggu sebelumnya …

Suasana sekolah Tiara tampak ramai pagi ini. Sepertinya sebagian besar murid memutuskan untuk datang lebih pagi dari biasanya untuk menghindari inspeksi mendadak yang dilakukan para guru di gerbang sekolah. Sekarang, taman sekolah yang biasanya tampak sepi, jadi tampak seperti pasar dengan banyaknya murid yang saling berceloteh satu sama lain.

Tiara herann juga dengan para gurunya yang tercinta yang malas banget menginspeksi sampai ke dalam sekolah dan hanya menunggu murid di gerbang. Jadi, banyak murid yang lolos begitu saja dari inspeksi mereka dengan hanya bermodalkan datang sepagi mungkin.

Dan sekarang, Tiara terpaksa menunggu kedatangan para sahabatnya di depan pintu kelasnya, karena di tempat biasa dia menunggu, di sebuah kursi taman di bawah pohon flamboyan besar, sudah ada murid lain yang mendahuluinya.

“Oy!” Tiba-tiba seorang cowok datang dari arah sampingnya dan mengagetkannya.

“Apaan, sih? Kaget tau!” kesal Tiara sambil mencubit cowok itu.

“Hehehe. Maaf, bu!” kata cowok itu sambil cengengesan. “Tumben di sini, biasanya di sana?”

“Romeo, kamu lagi sakit mata, ya?” tanya Tiara pada cowok yang bernama Romeo yang sekarang sedang sibuk ber-hi-five bersama teman-temannya sesama cowok itu.

“Gak. Emang kenapa?”

“Kalau gak lagi sakit mata, kenapa nanyak aku gak duduk di sana? Kamu kan bisa liat, di sana udah yang nempatin duluan,”  ujar Tiara dengan gemas pada salah satu sahabatnya itu dengan tangan yang menunjuk ke arah kursi panjang tercintanya yang diduduki oleh orang lain.

“Hehehe. Maaf lagi deh, bu. ” Romeo cengengesan lagi. “Yang lain mana?” tambah Romeo setelah puas cengengesan sambil celingukan mencari sahabatnya yang lain.

“Gak tau. Emangnya kamu gak ketemu sama mereka?”
“Gak. Aku kira malah udah di sini sama kamu. Eh, buku apaan tuh?” Romeo mengalihkan perhatiannya ke arah buku yang sedari tadi di pegang oleh Tiara dan langsung mengambilnya. Sok memperhatikan sampul atau membaca sinopsisnya, sekedar mengganggu Tiara yang paling gak suka kalau bukunya diganggu gugat oleh Romeo.

“Buku khusus anak IPA 1, anak IPA 3 gak tau!” kesal Tiara sambil merebut bukunya kembali.

“Sensi amat sih, bu, lagi M ya?” goda Romeo.

“Iya, lagi M. Marah!” Tiara memelototkan matanya dan kemudian membuang mukanya dengan jutek.

“Yah, marah beneran ya, Ra.Maaf lagi deh! Udah tiga kali nih, aku minta maaf sama kamu sepagi ini,” kata Romeo sambil menyunggingkan senyumnya yang lucu, yang mampu membuat amarah Tiara lenyap seketika.

Bletak!

Tiara menjitak kepala Romeo dengan mimik gemas.

“Adouw!”

“Untung kamu Romeo!” kata Tiara dengan tersenyum kecil.

“Kalau Juliet emangnya kenapa?” tanya Romeo sambil mengelus bagian kepalanya yang kena jitak dari Tiara.

“Berarti kamu cewek, dodol!”

“Sejak kapan namaku jadi dodol?”

“Sejak aku bilang barusan!”

“Oh, iya, ya!”

“Capek deh, Romeo!” Tiara hanya bisa geleng-geleng kepala dengan sikap Romeo yang terkadang tidak dapat ditebaknya.

“Tiara, Tiara, Tiara!”

Terdengar suara-suara cempreng dari arah datangny Romeo tadi yang dengan semangatnya memanggil-manggil Tiara dengan nada meneriaki copet.

“Akhirnya datang juga,” gumam Romeo yang disambut tawa kecil Tiara.

Frida bersama 2 orang sahabat Tiara yang lain, Aira dan Eril, datang dan langsung menggusur Romeo agar pindah ke tempat lain.

“Tiara Salsabila, aku punya berita baru yang pasti bikin kamu senang,” ujar Tiara dengan hebohnya sampai menyebutkan nama Tiara dengan lengkap.

“Berita apa?” Tiara menyipitkan matanya sambil memandang ketiga sahabatnya yang cewek.

“Tadaaaa!” Frida mengeluarkan selembar pamflet dari balik punggungnya.

“Minggu depan, Andre konser di Makassar,” ucap Aira dengan girang.

Tapi, ada satu wajah yang tampak tidak senang.

Hening beberapa saat.

“Kamu gak kaget atau senang, Ra?” tanya Frida dengan bingung dengan ekspresi Tiara yang sangat mengejutkannya.

“Aku udah tau dia konser di sini minggu depan. Dia udah ngasi tau aku,” kata Tiara dengan tatapan maaf-aku-udah-tau.

Aira dan Frida langsung memajang muka lesu mereka karena ternyata pacar memang akan selalu lebih tau.

“Tuh kan, apa aku bilang, dia udah tau! Secara dia pacarnya,” cerocos Eril yang nampak cuek-cuek saja.

“Terus, kamu mau nonton konsernya?” tanya Aira yang tiba-tiba sudah kembali semangat lagi.

“Yup! Mau ikut?” ajak Tiara.

“Mau, mau, mau, mau!” Aira dan Frida mengangguk-angguk dengan semangat 45, Tiara sampai jadi takut kalau kepala mereka nanti putus.

“Kamu, Ril?” tanya Tiara pada Eril yang emang benar-benar cuek.

“Kalau diajak dan gratisan, kenapa gak?” jawab Eril dengan santainya.

“Tenang aja, Andre udah janji buat ngasi 5 tiket.”

“Wah, Andre baik banget! Seneng deh, punya sohib yang jadian sama artis,” komen Frida sambil senyam-senyum.

“Kamu ikut juga kan, Rom?” tanya Eril yang memperhatikan perubahan raut wajah Romeo sejak awal.

“Liat nanti deh! Jadwalku penuh,” cuek Romeo. “Eh, aku ke kelas duluan ya, mau ngerjain PR. Da …,” sambung Romeo yang kemudian langsung berlalu menuju ke arah kelasnya.

“Huh, sok sibuk kamu!” ledek Tiara.

Tiara memperhatikan setiap langkah Romeo sampai cowok itu menghilang masuk ke dalam kelasnya yang terletak hampir di ujung koridor. Tiara selalu bingung dengan perubahan sikap Romeo jika ada yang menyinggung soal Andre di dekatnya.

Kenapa? Pertanyaan itulah yang selalu berkelebat di benak Tiara. Dan sampai saat ini dia masih belum tahu jawaban dari pertanyaannya itu, pertanyaan tentang cowok yang sudah dia kenal sejak di SMP itu. Tapi, Tiara tidak mau terlalu ambil pusing soal itu saat ini. Tiara terlalu senang karena akhirnya, setelah hampir setahun dia hanya mendengar suara Andre di telepon dan membaca kata-katanya di pesan hape atau e-mail, dia bisa melihat pacarnya itu, dan bahkan mungkin memeluknya meskipun hanya untuk sedetik. Tiara tak sabar menunggu Andre.

By thje way, kaus kakimu yang diambil sama guru BP, gimana, Da?” tanya Aira.

“Bodo’ amat!”