Bab 2 bagian 2 …
Tiara melihat ke arah jam tangannya. Jarum jam menunjukkan pukul 21.45 WITA. Tiara masih punya waktu 15 menit untuk sampai di hotel tempat Andre menginap. Frida juga sudah meneleponnya untuk menanyakan dia sudah di hotel atau belum dan menasihati Tiara tentang pentingnya memakai pengaman dan dia sudah siap untuk menanggung dosa besar demi sahabat yang dia sayangi. Tiara hanya tersenyum kecut ketika mendengar setiap kata yang diucapkan Frida di telepon.
Tiara melihat ke luar taksi yang ditumpanginya untuk mematikan kebosanannnya selama di taksi dan kegugupannya menghadapi malam ini. Tiara melihat sepintas sepasang remaja yang sedang nongkrong di bawah sebuah pohon besar yang menaungi salah satu jalan utama di Makassar yang sekarang dilalui oleh taksinya untuk menuju ke hotel.
Tiara jadi kembali mengenang masa-masa awal pacarannya dengan Andre. Khas anak remaja. Setelah orangtuanya memberikan restu untuk hubungannya dengan Andre, tiada malam minggu tanpa membohongi kedua orangtuanya. Dengan dalih mau nonton ama sahabat-sahabatnya–yang dengan senang hati membantu kebohongannya–, Tiara menghabiskan malam minggunya dengan Andre, kalau bukan di pantai, mereka ke mal.
Perhatian Tiara langsung teralih setelah akhirnya taksi yang ditumpanginya berhenti di teras lobi hotel. Tiara membayar taksi itu dan kemudian turun. Dua orang office boy hotel yang menjaga pintu membukakan pintu untuk Tiara yang melemparkan senyum kepada mereka berdua sambil melangkah masuk menuju lobi.
“Selamat malam, ada yang bisa saya bantu?” sapa dan tanya salah seorang recepsionist cantik.
“Kamar Andre Chandradinata nomor berapa ya?” tanya Tiara sambil tersenyum kecil.
“Tunggu sebentar ya, saya cari dulu,” kata recepsionist yang di dada kanannya tersemat papan nama kecil bertuliskan MALA.
Recepsionist itu terlihat sibuk mengetik di komputer LCDnya untuk mencari kamar Andre.
“Bapak Andre Chandradinata di kamar 410,” gumam recepsionist itu sambil sedikit melirik ke arah layar komputer untuk memastikan angka yang diucapkannya tidak salah.
Belum sempat Tiara mengatakan terima kasih, datang seorang recepsionist yang lain.
“Maaf, nama mbak, Tiara Salsabila?” tanya recepsionist itu.
Tiara melirik sebentar ke arah papan nama recepsionist itu dan membaca namanya. Putri.
“Iya, saya Tiara. Ada apa ya, kok bisa tau nama saya?” suara Tiara terdengar bingung ditambah lagi dengan ekspresinya.
“Maaf mbak, tadi saya dengar mbak mencari kamar Pak Andre,” ucap recepsionist itu. “Begini mbak, tadi sore Pak Andre meminta saya memberikan kunci cadangan kamarnya kepada Mbak Tiara,” lanjutnya sambil menyerahkan sebuah kunci kamar dengan sebuah gantungan kunci dengan angka 410.
Tiara menerima kunci itu dengan kembali tersenyum dan mengucapkan terima kasih kepada kedua recepsionist di hadapannya itu yang juga membalas senyumnya dan mengatakan, ” Sama-sama, mbak.”
Tiara melangkah menuju lift hotel dengan perasaan geli mendengar dia dipanggil “mbak”, sedangkan Andre dipanggil “bapak”, dan kemudian menunggu pintu lift terbuka untuk beberapa saat. Saat pintu lift terbuka, ada sekitar 5 orang yang keluar dari dalam lift, tapi Tiara tidak terlalu memperhatikan mereka. Tiara pun masuk ke dalam lift dan menekan angka 4 pada salah satu tombol di dalam lift.
Tiara meremas-remas kunci di tangannya dengan gugup. Hanya tinggal menghitung menit sampai semuanya terjadi.
Di lantai 2 dan 3 ada beberapa orang yang masuk. Salah satu di antaranya seorang wanita yang sepertinya seumuran denganMama Tiara, 40an akhir, yang berdiri di samping Tiara, tersenyum ke arah Tiara yang kemudian dibalas dengan senyuman juga oleh Tiara.
Saat layar digital di atas pintu lift memperlihatkan angka 4 tanda lift berhenti di lantai 4, pintu lift langsung terbuka dan Tiara pun melangkah keluar sambil memiringkan badannya agar dapat keluar tanpa menabrak 2 orang bapak yang berdiri di depan pintu lift.
Begitu keluar dari lift, Tiara melihat sebua papan kayu berukir yang terpasang di tembok hotel. Angka 400 sampai 419 dengan tanda panah ke kiri dan angkan 420 sampai 439 dengan tanda panah ke kanan, jadi Tiara melangkahkan kakinya ke arah kiri.
Karena melihat angka-angka ganjil di kamar-kamar sebelah kiri, maka Tiara hanya melihat ke arah kanan. Dan akhirnya dia sampai di kamar dengan pintu berangka 410.
Tiara menghembuskan nafas terlebih dahulu sebelum akhirnya memasukkan kunci di tangannya ke lubang kunci di pintu dan memutarnya sampai terdengar bunyi klik dan pintu pun terbuka.
Tiara melangkah pelan masuk ke dalam kamar yang tampak terang karena lampunya yang menyala semua. Awalnya Tiara bingung dengan keadaan kamar yang kosong, tapi setelah mendengar suara air dari arah kamar mandi yang terletak di sisi kanan lorong kecil yang berada tepat di depan pintu kamar, Tiara jadi tahu kalau Andre sedang mandi.
Tiara memperhatikan jam dinding di kamar itu yang menunjukkan pukul 10 malam tepat yang berarti Tiara sangat tepat waktu, tidak kurang ataupun lebih semenitpun.
Tiara kemudian duduk di sisi tempat tidur sambil menyilangkan kakinya dan menaruh tasnya–yang di dalamnya terdapat baju gantinya, selain dompet, handphone, lipgloss, dan bedak– di sampingnya.
Tiara memperhatikan jam tangannya hanya untuk memastikan kalau dia tidak datanga terlalu cepat dan kemudian mendesah dengan tidak sabar. Dan tak lama kemudian, Andre pun keluar dari kamar mandi dengan hanya menggunakan handuk untuk menutupi bagian vitalnya.
“Aaaa!” Jerit Tiara sambil menutup matanya.
Andre malah tertawa kecil melihat tingkah pacarnya. Andre pun kemudian melangkah mendekati Tiara dan duduk di samping Tiara.
Tangan Andre bergerak perlahan membuka kedua tangan tangan Tiara yang menutupi matanya.
“Gak usah malu, sayang,” kata Andre sambil tersenyum manis, senyum yang membuat Tiara dan ribuann fans-nya meleleh karena tersihir, senyum dengan dua lesung pipi yang manis.
“Gimana gak malu kalau kamu cuma pakai handuk kayak gitu,” protes Tiara sambil manyun.
Andre hanya terkekeh.
Andre lalu berjalan ke arah sakelar lampu kamar dan menekannya sehingga kamar menjadi remang, karena hanya ada 2 lampu meja yang meneranginya. Setelah itu, dia kembali duduk di samping Tiara yang sedang meremas tangannya dengan mimik gugup.
“Kamu siap?” tanya Andre sambil menyelipkan rambut Tiara yang panjang ke balik telinganya.
Tiara menundukkan kepalanya menatap kakinya, tidak mampu menjawab dengan kata dan hanya mengangguk ragu.
“Kamu gugup?” tanya Andre, kali ini sambil mengangkat dagu Tiara agar melihat ke arahnya.
Tiara kembali hanya mengangguk. Andre tersenyum lagi.
“Gak usah gugup, sayang. Aku juga baru pertama kali. Ini gak akan lama,” ucap Andre dengan tatapan yang penuh arti. Tapi Tiara tidak tahu apa arti tatapan itu. Cinta atau …
“Tapi…” Kata-kata Tiara langsung terhenti karena jari telunjuk kanan Andre ada di depan bibirnya, membungkamnya.
“Aku akan bertanggungjawab, sayang.” Andre berkata seakan tahu apa yang akan Tiara katakan.
“Kamu janji?” Tiara meminta kepastian.
“Dengan nyawaku,” jawab Andre.
Tiara tersenyum simpul mendengar jawaban Andre yang menurutnya bukan main-main atau hanya sekedar bualan belaka, karena selama ini Andre tidak pernah mengingkari janjinya, sekecil apapun janji itu.
“Aku cinta kamu,” singkat Andre yang langsung mengecup lembut bibir Tiara yang jantungnya berdetak kencang.
Bukan pertama kalinya Andre mencium Tiara, tapi ciuman ini adalah awal dari malam yang, entah mengapa, menjadi sangat panjang. Malam itu menjadi latar waktu sebuah gerakan indah yang dilakukan dua orang anak manusia dengan desahan lembut penuh cinta menjadi musik latarnya. Kamar itu menjadi saksi bisu segala tanda cinta yang terjadi. Tanda cinta yang tak diharapkan Tiara.